Oleh: Asep Mulyana
Senin, 16 Januari 2012, 08:30 WIB
INILAH.COM, Purwakarta – Nasib ratusan perajin kerajinan tangan (kriya) di Purwakarta makin terhimpit. Selama musim hujan, penghasilan para perajin semakin sempit.

Produksi kerajinan kriya asal Kecamatan Plered mengalami kelesuan selama musim penghujan. Bahkan, dari sekitar 500 perajin keramik dan genting yang ada, 25% berhenti berproduksi. Akibatnya, banyak para perajin terpaksa menganggur.

Samsu Aziz (42), perajin genting lio pondok pinang super, Desa Citeko Kecamatan Plered Kabupaten Purwakarta mengatakan, musim penghujan merupakan musim paceklik bagi perajin kriya. Pasalnya, untuk proses penjemuran 100% para perajin genteng dan keramik membutuhkan bantuan sinar matahari.

“Musim hujan merupakan musim paceklik buat kami. Pasti selama musim hujan kami berhenti produksi dulu,” kata Samsu, Minggu (15/1/2012).

Samsu menjelaskan, percuma saja para perajin berproduksi jika sinar mataharinya tidak ada. Karena, hasil penjemuran sinar matahari jauh lebih berkualitas dibandingkan dengan menggunakan alat pemanas. Selain itu, biaya penjemuran dengan bantuan matahari sangat murah.

Jika menggunakan alat pemanas, lanjut dia, perajin harus mengeluarkan biaya ekstra besar. Karena, alat tersebut bisa beroperasi dengan bantuan bahan bakar minyak atau listrik. Belum lagi perajin yang tak memiliki alat sendiri. Dia harus keluarkan biaya untuk biaya sewa. Rata-rata biaya sewa alat pemanas itu Rp200.000/1.000 genting.

Perajin keramik, Wardiman (52) juga mengeluhkan hal yang sama. Beruntung, pada musim hujan kali ini dia masih memiliki stok keramik yang sudah dijemur. Jadi, kalau ada pesanan dirinya tinggal melakukan tahapan penyelesaian yakni proses pembakaran. “Kalau dijemur di bawah sinar matahari dengan sempurna, hasilnya akan lebih bagus,” ujar dia.

Jika dijemur di bawah sinar matahari, lanjut dia, berbeda dengan menggunakan alat pemanas. Pemakaian alat pemanas hasilnya kurang maksimal. Karena, saat dibakar keramik yang dipanaskan dengan alat mudah retak, bahkan hancur. Sedangkan dijemur menggunakan tenaga surya, hasilnya padat dan bagus.

Dengan kondisi ini, sebenarnya para perajin ingin beralih pekerjaan. Tapi, tidak ada lowongan kerja lainnya. Untuk menjadi tukang ojek sepeda motor saja sangat sulit. Karena, jumlahnya sudah melebihi kapasitas. “Akhirnya, kami berdiam diri saja menunggu musim hujan segera berlalu,” tandasnya.

Kepala Litbang Keramik Plered Ahmad Nizar mengatakan saat ini masih banyak perajin yang memiliki stok. Jadi, ketika ada pesanan mereka masih bisa menjual hasil karyanya itu. “Sebelum musim hujan datang, sudah ada imbauan soal penyetokan produk. Jadi ketika ada pesanan mereka masih bisa menjual hasil karyanya,” kata Nizar.

Dengan kata lain, setiap saat pihaknya selalu mengimbau para perajin untuk membuat produk sebanyak-banyaknya saat musim panas. Produk tersebut harus sudah dalam 80%. Dengan kata lain, 20% lagi tinggal penyelesaian.[jul]

About H Onnie S Sandi SE

Melanjutkan Bakti Untuk PURWAKARTA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s