Oleh: Asep Mulyana
Minggu, 11 Desember 2011, 07:00 WIB
INILAH.COM, Purwakarta – Perahu, alat transportasi air ini pernah mengharumkan nama Desa Cikao Bandung, Kecamatan Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta.

Di daerah yang juga terkenal sebagai penghasil simping ini, sentra kerajinan perahu terletak di desa yang ada di bawah Bendungan Ir H Djuanda (Jatiluhur). Masa kejayaan perajin perahu tersebut, hanya saat Sungai Cikao menjadi satu-satunya akses penghubung antara Batavia (Jakarta) ke Purwakarta dan daerah sekitarnya.

Di Purwakarta, pelabuhannya terletak di Cikao Bandung. Sehingga, pada saat itu daerah ini menjadi wilayah paling ramai disinggahi para pedagang dan saudagar dari luar negeri. Banyaknya pengunjung tersebut membuat Cikao Bandung menjadi termasyur. Bahkan, desa tersebut jauh lebih terkenal dari Purwakarta.

“Sebenarnya, usia desa ini jauh lebih tua dari usia Purwakarta,” ujar Maman Rusmana (62), salah satu perajin perahu asal Kampung Cikao 2 RT 09/04, Desa Cikao Bandung, kepada INILAH.COM, Sabtu (10/12/2011).

Karena menjadi desa pelabuhan, kata Maman, masyarakat Cikao Bandung tertarik dengan membuat perahu. Berawal dari meniru perahu yang singgah, akhirnya keterampilan membuat perahu tersebut dikuasai oleh masyarakat Cikao. Sehingga, saat itu hampir semua kepala keluarga (KK) mampu membuat perahu.

Selain digunakan sendiri, perahu tersebut banyak diminati oleh pembeli dari luar daerah. Saat itulah, perahu Cikao banyak dicari orang dari pelosok daerah. Sehingga, Cikao Bandung juga terkenal dengan sebutan Kampung Perahu.

Namun, sejak Bendung Walahar (Karawang) ditutup oleh pemerintah pada 1918, perahu tak bisa lagi menyusuri Sungai Citarum yang tembus ke Sungai Cikao. Sejak saat itu, Sungai Cikao mulai sepi dari arus lalulintas perahu. Adapun perahu yang masih bertahan, adalah perahu yang mengangkut pasir atau bambu.

Di tutupnya Bendung Walahar tersebut, membuat peminat perahu menjadi berkurang. Apalagi, saat ini kondisi sungai mengalami perubahan, karena terjadi pendangkalan dan sedimentasi. Kedua hal itu, membuat lesunya usaha kerajinan perahu, yang sebagian besar menjadi mata pencaharian masyarakat Cikao Bandung. “Masa kejayaan perahu, mulai redup sejak 80-an,” ujar Maman.

Perajin perahu yang lainnya, Jaya Suryadi (53), warga Kampung Batu Layang RT 04/01 mengatakan sejak awal 1990 usaha perahu semakin mengalami kemunduran. Hal itu, menyebabkan kerajinan perahu tak lagi diminati oleh generasi penerus karena prospeknya kurang menjanjikan.

Dalam setahun, kata Jaya, yang memesan tak lebih dari empat unit. Itupun rata-rata yang dipesan adalah perahu dengan ukuran kecil atau harganya lebih murah. Minimnya order ini, membuat jumlah perajin berkurang. Bahkan, perajin perahu sudah banyak yang meninggal dunia. Saat ini, yang tersisa tinggal enam orang. Itupun, usianya sudah lebih dari setengah abad.

“Sepi order dan tak berminatnya generasi muda terhadap kerajinan perahu, semakin meredupkan nama Kampung Perahu,” ujar Jaya, yang mengaku belajar membuat perahu dari Maman.

Jaya mengemukakan harga perahu yang bahannya dari kayu jati itu bervariasi, tergantung dari ukurannya. Untuk perahu ukuran 9 (panjang)x3 meter (lebar), harganya mencapai Rp8 juta. Sedangkan yang ukuran 7×1,8 m harganya Rp3 juta. Kekuatan perahu tersebut, bisa mencapai tiga tahun. Dengan kata lain, kalau sudah tiga tahun pasti ada beberapa bagian yang mengalami kerusakan.

Masing-masing ukuran itu, bisa menghabiskan waktu pembuatan sampai satu pekan dan empat hari. Dengan jumlah perajin yang hanya dua orang. Adapun perbedaan perahu Cikao dengan buatan lainnya, yaitu dari bentuk depannya. Perahu Cikao berbentuk persegi (sampan) sedangkan perahu lain, bentuknya sintung (lancip). Selain itu, dari pemasangan rangka tulangnya atau papan daunnya, yang lebih menjorok ke bagian dalam badan perahu.

“Kita berharap pemerintah ikut melestarikan kerajinan ini. Caranya, dengan membukukan teknik pembuatan perahu. Namun, sampai saat ini tak ada yang memerhatikannya,” kata Jaya.

Sementara itu, Kepala Desa Cikao Bandung Saepul Hidayat mengatakan pihaknya merasa prihatin dengan nasib perajin perahu yang semakin terpuruk. Padahal, kata Saepul, pemerintah bisa memerhatikan para perajin tersebut. Terutama, dalam hal melestarikan kerajinan perahu, sebagai ikon dari Kampung Perahu Cikao Bandung.

“Desa memiliki anggaran yang terbatas. Seharusnya, pemkab berupaya untuk melestarikan kerajinan tersebut,” tuturnya.[jul]

About H Onnie S Sandi SE

Melanjutkan Bakti Untuk PURWAKARTA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s