Ada kemeriahan yang berbeda saat acara peringatan Hari Jadi Purwakarta, HUT RI Ke-67 dan Parade 1.300 bedug pada Malam Takbiran di Purwakarta. Perbedaan tersebut sangat terasa dan dapat dilihat secara kasat mata dari mulai persiapan hingga simbol, bendera, umbul-umbul, spanduk dan kegiatannya itu sendiri. Saya coba mencari dan menelaah apakah hal tersebut karena ketidak tahuan, ketidak pedulian, ketidak segajaan  atau kesibukan menjelang Idul Fitri 1433 H, sehingga peringatan HUT RI ke -67 di Purwakarta , terasa hambar dan bisa dikatakan hampir tidak ada bedanya dengan hari-hari biasa. Padahal kita tahu bahwa Peringatan HUR RI ke 67,  seharusnya sangat istimewa,karena hari lahirnya bangsa Indonesia terlebih  jatuh pada hari Jum’at  bulan Ramadhan, hampir sama persis  dengan saat di ploklamirkan 67 tahun yang lalu yaitu  tanggal 17 Agustus 1945, yang juga jatuh pada hari Jum’at dan di  bulan Ramadhan. Sengaja saya membuat tulisan ini agak terlambat, karena saya masih berharap dan beranggapan mungkin setelah Idul Fitri 1433 H, ada kegiatan yang biasanya ditandai dengan pesta rakyat atau kegiatan hiburan lainnya dengan thema HUT RI Ke-67. Namun sampai saat tulisan ini dibuat tidak ada tanda-tanda kegiatan tersebut akan terjadi. Ada kecumburuan, kesedihan, kekecewaan dan keanehan  di hati saya manakala peringatan HUT RI, dianggap tidak istimewa lagi, sedangkan kegiatan peringatan hari jadi Purwakarta dilakukan secara besar-besaran dengan menghabiskan anggaran Rp 1,4 milyar, demikian juga Parade Bedug yang dilaksanakan pada malam takbiran menampilkan 1.300 bedug dan memecahkan record Muri. Nampak jelas bedug tersebut dipersiapkan dengan cermat dengan pelibatan Instansi Pemerintah, Kelurahan/Desa dan masyarakat serta dengan dana yang cukup besar karena banyak bedug – bedug besar  tampak masih baru, yang sengaja di beli dari salah satu kota di Jawa Barat dengan warna, teks  dan simbol tertentu.

Saya terus berfikir dan mencari tahu, bertanya kesana kemari, mencari informasi mengapa ada perbedaan yang sangat signifikan dalam peringatan hari besar tersebut, ternyata tidak ada jawaban yang pasti, jawaban yang saya terima hanya jawaban yang asal kena,   seperti pemerintah daerah sibuk mempersiapkan Idul Fitri 1433H, nasionalisme sudah luntur dan jawaban lainnya yang tidak rasional. Setelah saya merenung dan berfikir akhirnya saya membuat penafsiran sbb;

  • Peringatan Hari Jadi Purwakarta dan Kabupaten Purwakarta, dilaksanakan secara besar-besaran dengan menyeragamkan spanduk, umbul-umbul, baligo, pawai tumpeng, kereta kencana, parade kuda, sangat kentara sekali penuh dengan pesan dan kesan tersendiri tentang dominansi warna hitam-putih,  teks tertentu, gambar  dan  simbol-simbol yang dapat mengkultuskan tentang individu dan pencitraan tersendiri.

Umbul-umbul Hari Jadi Purwakarta & Kab.Puewakarta

  • Malam takbiran yang diselenggarakan satu hari setelah Peringatan HUT RI Ke 67, juga dilaksanakan dengan besar-besaran menggelar Parade 1.300 bedug, yang juga memberi nuansa dan dominasi warna Hitam-Putih, termasuk para peserta Parade dengan memakai pakaian khas Sunda, baju pangsi warna hitam dan ikat kepala  yang juga menampilkan simbol tertentu  dan dilakukan secara besar-besaran dengan parade kuda, kereta kencana ,barongsai dll.

Parade 1300 Bedug, pada Malam Takbiran Idul Fitri 1433 H di Purwakarta

  • Mengingat HUT RI Ke-67, bersifat Nasionalisme, warna bendera, spanduk, umbul-umbul lebih di dominasi warna merah-putih, gambar-gambar lebih menonjolkan heroisme perjuangan dan teksnya yang ditampilkan juga biasanya lebih memberi semangat tentang kebangsaan, cita-cita proklamasi, kebersamaan sebagai warga negara sehingga berlawanan dengan kepentingannya yang lebih menginginkan warna favoritnya yaitu hitam putih lebih mendominasi, simbol, atribut, spanduk, gambar ,umbul-umbul dan teks yang yang biasanya diseragamkan untuk pencitraan dirinya tidak dapat dilakukan maka Perayaan HUT RI Ke-67, terpaksa dikerdilkan.

Situasi di salah satu jalan protokol pada tgl 15  Agustus 2012, yang nampak lampion “Sahate” simbol koalisi Incumbent

Apabila Sang Petahana tidak memiliki agenda dan kepentingan tersendiri, kegiatan Peringatan HUT RI Ke-67 dan Malam Takbiran yang waktunya berdekatan dapat dilaksanakan secara bersamaan dengan mengusung Thema ” Gema Takbir Merah Putih “, atau Gema Takbir Indomesia Merdeka atau thema apa saja yang mencerminkan sinergitas kedua peristiwa besar tsb, jika  menginginkan pelibatan unsur budaya dan daerah , sebenarnya  dapat  dilakukan secara bersama-sama dengan memberi kebebasan pada masyarakat memakai pakaian adat dari pelosok Nusantara  tanpa dibatasi dengan warna dan motif tertentu serta jika menginginkan melibatkan budaya lainnya karena pada saat itu juga ada barongsai juga tidak dibatasi dengan simbol, motif, warna, kalimat tertentu yang memiliki makna dan agenda tertentu pula, karena sebagai Kepala Daerah yang telah disumpah setia pada NKRI, semestinya ucapan, tulisan, pikiran dan tindakannya harus mencerminkan perilaku sebagai negarawan. Analisa yang saya lakukan bukan semata emosional ataupun berprasangka buruk, namun tindakannya sendiri membuat setiap orang menduga-duga , karena ketika melakukan pendaftaran sebagai Balon Bupati ke KPUD untuk Pemilukada,  Sang Petahana melakukan karnaval dan arak-arakan secara besar-besaran dengan dominasi simbol, pakaian pangsi  dan warna Hitam-Putih serta dilaksanakan pada Tanggal 9 September 2012, Jam 19.30 WIB, memang pada akhir-akhir ini setiap ada kegiatan pawai, parade, karnaval di Purwakarta, selalu dilaksanakan pada malam hari, jangan-jangan kalau diijinkan Sang Petahana berharap pelaksanaan pencoblosan Pemilukada juga dilaksanakan pada malam hari. Wallahualam ……

Baca Juga :

About H Onnie S Sandi SE

Melanjutkan Bakti Untuk PURWAKARTA

23 responses »

  1. yisha mengatakan:

    di kampung yisha rame kok ka, dirayakan 26 agust.🙂

  2. cumakatakata mengatakan:

    lanjutkan Om……

  3. kangyaannn mengatakan:

    untuk peringatan HUT RI yg Ke-67 di sini juga sama pak Haji tak semeriah tahun tahun ke belakang… alasan pastinya saya tidak tau….

    kalau untuk Peringatan Hari Jadi Purwakarta dan Kabupaten Purwakarta serta parade bedug yang sangat meriah saya juga membacanya demikian, ada niat tertentu dari pihak penyelenggara…

  4. demokrat purwakarta mengatakan:

    Reblogged this on DPC Partai Demokrat Purwakarta and commented:
    kepentingan dengan mengorbankan nasionalisme

  5. Idah Ceris mengatakan:

    Om, maaf ya baru sempat bewe. .
    lagi ngurus skripsi. .😀

    Kemeriahan untuk HUT RI dan Lebaran juga terjadi di Banjarengaera, khususnya di desa saya.🙂

    Sukses selalau untuk Om onnie. . .😉

  6. Komunitas Purwakarta mengatakan:

    Biasa pencitraan dan politik uang …. dgn menggunakan anggaran pemerintah, kemampuannya cuma itu

  7. Penulis Artikel mengatakan:

    Semoga Sukses Selalu Pak…
    Lanjutkan….🙂

  8. najla mengatakan:

    salam sukses selalu pak

  9. komunitaspurwakarta mengatakan:

    Merah darahku, putih tulangku.merah putih benderaku, bukan yang lain

  10. Bomber Purwakarta mengatakan:

    Selamat berjuang Kang Onnie …….

  11. […] Kemeriahan yang berbeda Oleh H Onnie S Sandi SE […]

  12. […] Kemeriahan yang berbeda Oleh H Onnie S Sandi SE […]

  13. […] Kemeriahan yang berbeda Oleh H Onnie S Sandi SE […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s